Monday, March 30, 2020

Assalamualaikum wr.wb
Berikut Tugas ke Empat mengenai "GEOTERMAL"


I.     GEOTHERMAL
1.1.       Pengertian Gheotermal
Geothermal berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari 2 kata yaitu geo yang berarti bumi dan thermal yang artinya panas, berarti geothermal adalah panas yang berasal dari dalam bumi. Proses terbentuknya energi panas bumi sangat berkaitan dengan teori tektonik lempeng yaitu teori yang menjelaskan mengenai fenomena-fenomena alam yang terjadi seperti gempa bumi, terbentuknya pegunungan, lipatan, palung, dan juga proses vulkanisme yaitu proses yang berkaitan langsung dengan geothermal.


TUGAS INDIVIDU KE TIGA
“Teknik Konversi Energi Fosil”
I.     BATUBARA
1.1.       Pengertian Batubara
Batubara adalah salah satu bahan bakar fosil yang berasal dari batuan sedimen yang dapat terbakar dan terbentuk dari endapan organik, utamanya adalah sisa-sisa tumbuhan dan terbentuk melalui proses pembatubaraan. Unsur-unsur utamanya terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen (Anonim, 2016). Batubara memiliki sifat-sifat fisika dan kimia yang kompleks yang dapat ditemui dalam berbagai bentuk. Analisis unsur memberikan rumus formula empiris seperti C137H97O9NS untuk bituminus dan C240H90O4NS untuk antrasit.
Menurut Yunita (2000), Batubara adalah substansi heterogen yang dapat terbakar dan terbentuk dari banyak komponen yang mempunyai sifat saling berbeda. Batubara dapat didefinisikan sebagai satuan sedimen yang terbentuk dari dekomposisi tumpukan tanaman selama kira-kira 300 juta tahun. Dekomposisi tanaman ini terjadi karena proses biologi dengan mikroba dimana banyak oksigen dalam selulosa diubah menjadi karbondioksida (CO2) dan air (H2O). Kemudian perubahan yang terjadi dalam kandungan bahan tersebut disebabkan oleh adanya tekanan, pemanasan yang kemudian membentuk lapisan tebal sebagai akibat pengaruh panas bumi dalam jangka waktu berjuta-juta tahun, sehingga lapisan tersebut akhirnya memadat dan mengeras.
Berdasarkan atas cara penggunaanya sebagai penghasil energi diklasifikasikan sebagai berikut (Sukandarrumidi,1995):
a.    Penghasil energi primer
Batubara yang langsung dipergunakan untuk industri misalnya pemakaian batubara sebagai bahan bakar burner (dalam industri semen dan pembangkit listrik tenaga uap), pembakaran kapur, bata, genting; bahan bakar lokomotif, pereduksi proses metalurgi, kokas konvensional, bahan bakar tidak berasap (smokeless fuels)
b.      Penghasil energi sekunder
Batubara yang tidak langsung dipergunakan untuk industri misalnya pemakaian batubara sebagai bahan bakar padat (briket), bahan bakar cair (konversi menjadi bakar cair) dan gas (konversi menjadi bahan bakar gas), bahan bakar dalam industri penuangan logam (dalam bentuk kokas).
Pada Zaman Permian, kira-kira 270 juta tahun yang lalu, juga terbentuk endapan-endapan batu bara yang ekonomis di belahan bumi bagian selatan, seperti Australia, dan berlangsung terus hingga ke Zaman Tersier (70 - 13 juta tahun yang lalu) di berbagai belahan bumi lain (Krevelen, 1993). Terdapat dua teori yang menjelaskan proses pembentukan batubara yaitu :
a.    Teori Insitu
Teori ini mengatakan bahwa bahan-bahan pembentukan lapisan batubara, terbentuknya di tempat dimana tumbuh-tumbuhan asal batubara itu berada. Dengan demikian segera setelah tumbuhan tersebut mati, belum mengalami proses transportasi, tertutup oleh lapisan sedimen dan mengalami proses coalificatio. Jenis batubara yang terbentuk dengan cara ini mempunyai penyebaran yang luas dan merata dengan kualitas yang baik, karena abunya relatif kecil. Batubara yang terbentuk menurut teori Insitu terdapat di Muara Enim, Sumatera Selatan.
b.    Teori Drift, Teori ini menyebutkan bahwa bahan-bahan pembentuk lapisan
Batubara terjadinya di tempat yang berbeda dengan tempat asalnya. Dengan demikian tumbuhan yang telah mati terbawa oleh arus air dan berakumulasi di suatu tempat. Batubara yang terbentuk menurut Teori ini terdapat di Mahakam Purba, Kalimantan Timur.
Dalam penyusunannya batubara diperkaya dengan berbagai macam polimer organik yang berasal dari antara lain karbohidrat, lignin, dll. Namun komposisi dari polimer-polimer ini bervariasi tergantung pada spesies dari tumbuhan penyusunnya.
a.    Lignin
Lignin merupakan suatu unsur yang memegang peranan penting dalam merubah susunan sisa tumbuhan menjadi batubara. Sementara ini susunan molekul umum dari lignin belum diketahui dengan pasti, namun susunannya dapat diketahui dari lignin yang terdapat pada berbagai macam jenis tanaman. Sebagai contoh lignin yang terdapat pada rumput mempunyai susunan p-koumaril alkohol 6 yang kompleks. Pada umumnya lignin merupakan polimer dari satu atau beberapa jenis alkohol. Hingga saat ini, sangat sedikit bukti kuat yang mendukung teori bahwa lignin merupakan unsur organik utama yang menyusun batubara.
b.    Karbohidrat Gula atau monosakarida
Merupakan alkohol polihirik yang mengandung antara lima sampai delapan atom karbon. Pada umumnya gula muncul sebagai kombinasi antara gugus karbonil dengan hidroksil yang membentuk siklus hemiketal. Bentuk lainnya mucul sebagai disakarida, trisakarida, ataupun polisakarida. Jenis polisakarida inilah yang umumnya menyusun batubara, karena dalam tumbuhan jenis inilah yang paling banyak mengandung polisakarida (khususnya selulosa) yang kemudian terurai dan membentuk batubara.
c.    Protein
Protein merupakan bahan organik yang mengandung nitrogen yang selalu hadir sebagai protoplasma dalam sel mahluk hidup. Struktur dari protein pada umumnya adalah rantai asam amino yang dihubungkan oleh rantai amida. Protein pada tumbuhan umunya muncul sebagai steroid, lilin.
d.   Material Organik Lain
Material organik lain diantaranya resin, tannin, alkaloida, porphirin, hidrokarbon, dan Konstituen Tumbuhan yang Inorganik (Mineral). Selain material organik yang telah dibahas diatas, juga ditemukan adanya material inorganik yang menyusun batubara. Secara umum mineral ini dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu unsur mineral inheren dan unsur mineral eksternal. Unsur mineral inheren adalah material inorganik yang berasal dari tumbuhan yang menyusun bahan organik yang terdapat dalam lapisan batubara. Sedangkan unsur mineral eksternal merupakan unsur yang dibawa dari luar kedalam lapisan batubara, pada umumya jenis inilah yang menyusun bagian inorganik dalam sebuah lapisan batubara.
1.2.       Klasifikasi Batubara
Klasifikasi praktis berawal dari kebutuhan akan adanya suatu pengelompokan untuk keperluan transaksi perdagangan maupun ekspor impor, serta dari sisi keperluan penggunaan batubara itu sendiri. Umumnya, tujuan pemanfaatan batubara bisa amat berbeda antara satu negara dengan negara lain, sehingga klasifikasi dan metode penamaannya juga sangat berbeda. Namun secara umum, kandungan zat terbang (volatile matter) diambil sebagai nilai acuan baku, dan terdapat kecenderungan yang hampir sama untuk kandungan zat terbang 6 hingga sekitar 32%. Lewat dari angka ini, terdapat perbedaan yang cukup besar antara satu dengan yang lainnya, sehingga umumnya diambil nilai acuan tambahan berupa kandungan air (moisture), nilai kalori dan sebagainya.
Tabel 1. Jenis Batubara Berdasarkan Nilai Kalor
Pengguna
Pengguna
Nilai Kalor (kal/gr)
Antrasit
5-10
7.222-7.778
Semi antrasit
9-10
5.100-7.237
Bituminous
10-15
4.444-6.111
Sub-Bituminuous
10-20
4.444-8.333
Lignit
15-20
3.056-4.611
Sumber : Achmadinblog.wordpress.com
Semakin tinggi kualitas batubara, maka kadar karbon akan meningkat, sedangkan hidrogen dan oksigen akan berkurang. Batubara bermutu rendah, seperti lignite dan sub-bituminous, memiliki tingkat kelembaban (moisture) yang tinggi dan kadar karbon yang rendah, sehingga energinya juga rendah. Semakin tinggi mutu batubara, umumnya akan semakin keras dan kompak, serta warnanya akan semakin hitam mengkilat. Selain itu, kelembabannya pun akan berkurang sedangkan kadar karbonnya akan meningkat, sehingga kandungan energinya juga semakin besar.
Berdasarkan tingkat proses pembentukannya yang dikontrol oleh tekanan, panas dan waktu, batubara umumnya dibagi dalam beberapa kelas yaitu:
a.            Lignit
Lignit merupakan batubara peringkat rendah dimana kedudukan lignit dalam tingkat klasifikasi batubara berada pada daerah transisi dari jenis gambut ke batubara. Lignit adalah batubara yang berwarna hitam dan memiliki tekstur seperti kayu.
Sifat batubara jenis lignit :
1.    Warna hitam, sangat rapuh
2.    Nilai kalor rendah, kandungan karbon sedikit
3.    Kandungan air tinggi
4.    Kandungan abu banyak
5.    Kandungan sulfur banyak (Sukandarrumidi, 1995)

b.             Sub-Bituminus
Batubara jenis ini merupakan peralihan antara jenis lignit dan bituminus. Batubara jenis ini memiliki warna hitam yang mempunyai kandungan air, zat terbang, dan oksigen yang tinggi serta memiliki kandungan karbon yang rendah. Sifat-sifat tersebut menunjukkan bahwa batubara jenis sub-bituminus ini merupakan batubara tingkat rendah.
c.              Bituminus
Batubara jenis ini merupakan batubara yang berwarna hitam dengan tekstur ikatan yang baik. Sifat batubara jenis bituminus:
1.    Warna hitam mengkilat, kurang kompak
2.    Nilai kalor tinggi, kandungan karbon relatif tinggi
3.    Kandungan air sedikit
4.    Kandungan abu sedikit
5.    Kandungan sulfur sedikit
d.             Antrasit
Antrasit merupakan batubara paling tinggi tingkatan yang mempunyai kandungan karbon lebih dari 93% dan kandungan zat terbang kurang dari 10%. Antrasit umumnya lebih keras, kuat dan seringkali berwarna hitam mengkilat seperti kaca (Yunita, 2000). Sifat batubara jenis antrasit :
1.    Warna hitam sangat mengkilat, kompak
2.    Nilai kalor sangat tinggi, kandungan karbon sangat tinggi
3.    Kandungan air sangat sedikit
4.    Kandungan abu sangat sedikit
5.    Kandungan sulfur sangat sedikit
1.3.       Sulfur Dalam Batubara
Batubara merupakan bahan bakar fosil yang terbentuk dari batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan organik, utamanya adalah sisa-sisa tumbuhan dan terbentuk melalui proses pembatubaraan. Unsur-unsur utamanya terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen (Wikipedia,2016).
Sulfur adalah salah satu komponen dalam batubara, yang terdapat sebagai sulfur organik maupun anorganik. Umumnya komponen sulfur dalam batubara terdapat sebagai sulfur syngenetik yang erat hubungannya dengan proses fisika dan kimia selama proses penggambutan (Meyers, 1982) dan dapat juga sebagai sulfur epygenetik yang dapat diamati sebagai pirit pengisi cleat pada batubara akibat proses presipitasi kimia pada akhir proses pembatubaraan (Mackowsky, 1968).
   Terdapat 3 (tiga) jenis sulfur yang terdapat dalam batubara, yaitu :
1.    Sulfur Pirit Pirit dan markasit merupakan mineral sulfida yang paling umum dijumpai pada batubara. Kedua jenis mineral ini memiliki komposisi kimia yang sama (FeS2) tetapi berbeda pada sistem kristalnya. Pirit berbentuk isometrik sedangkan Markasit berbentuk orthorombik (Taylor G.H, et.al., 1998). Pirit (FeS2) merupakan mineral yang memberikan kontribusi besar terhadap kandungan sulfur dalam batubara, atau lebih dikenal dengan sulfur pirit (Mackowsky, 1943 dalam Organic Petrology, 1998).    
      Berdasarkan genesanya, pirit pada batubara dapat dibedakan menjadi 2, yaitu :
a      Pirit Syngenetik, yaitu pirit yang terbentuk selama proses penggambutan (peatification). Pirit jenis ini biasanya berbentuk framboidal dengan butiran sangat halus dan tersebar dalam material pembentuk batubara (Demchuk, 1992 dalam International Journal Of Coal Geology, 1992).
b      Pirit Epygenetik, yaitu pirit yang terbentuk setelah proses pembatubaraan. Pirit jenis ini biasanya terendapkan dalam kekar, rekahan dan cleat pada batubara serta biasanya bersifat masif (Mackowsky, 1968; Gluskoter, 1977; Frankie and Howe, 1987 dalam International Journal Of Coal Geology, 1992).
2.    Sulfur Organik
     Sulfur organik merupakan suatu elemen pada struktur makromolekul dalam batubara yang kehadirannya secara parsial dikondisikan oleh kandungan dari elemen yang berasal dari material tumbuhan asal. Dalam kondisi geokimia dan mikrobiologis spesifik, sulfur inorganik dapat terubah menjadi sulfur organik (Wiser W.H, 2000).
1.4.Batubara Indonesia
Potensi sumberdaya batu bara di Indonesia sangat melimpah, terutama di Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera, sedangkan di daerah lainnya dapat dijumpai batu bara walaupun dalam jumlah kecil dan belum dapat ditentukan keekonomisannya, seperti di Jawa Barat, Jawa Tengah, Papua, dan Sulawesi. Badan Geologi Nasional memperkirakan Indonesia masih memiliki 160 miliar ton cadangan batu bara yang belum dieksplorasi. Cadangan tersebut sebagian besar berada di Kalimantan Timur dan Sumatera Selatan. Namun upaya eksplorasi batu bara kerap terkendala status lahan tambang. Daerah-daerah tempat cadangan batu bara sebagian besar berada di kawasan hutan konservasi. Rata-rata produksi pertambangan batu bara di Indonesia mencapai 300 juta ton per tahun. Dari jumlah itu, sekitar 10 persen digunakan untuk kebutuhan energi dalam negeri, dan sebagian besar sisanya (90 persen lebih) diekspor ke luar.
Di Indonesia, endapan batubara yang bernilai ekonomis terdapat di cekungan Tersier, yang terletak di bagian barat Paparan Sunda (termasuk Pulau Sumatera dan Kalimantan), pada umumnya endapan batu bara ekonomis tersebut dapat dikelompokkan sebagai batubara berumur Eosen atau sekitar Tersier Bawah, kira-kira 45 juta tahun yang lalu dan Miosen atau sekitar Tersier Atas, kira-kira 20 juta tahun yang lalu menurut skala waktu geologi (Fatimah dan Herudiyanto, diakses 2016).



II.MINYAK BUMI
2.1.       Pengertian Minyak Bumi
Minyak bumi adalah suatu campuran kompleks yang sebagaian besar terdiri atas hidrokarbon. Hidrokarbon yang tergantung dalam minyak bumi adalah alakana. Kemudian sikloalkana. Komponen lainnya adalah hidrokarbon aromatik, sedikit alkena, dan berbagai senyawa karbon yang mengandung oksigen, nitrogen, dan belerang. Minyak mentah (petroleum) adalah campuran yang kompleks, terutama terdiri dari hidrokarbon bersama-sama dengan sejumlah kecil komponen yang mengandung sulfur, oksigen dan nitrogen dan sangat sedikit komponen yang
mengandung logam. Struktur hidrokarbon yang ditemukan dalam minyak mentah:Sumber energi yang banyak digunakan untuk memasak, kendaraan bermotor, dan industri, berasal dari minyak bumi, gas alam, dan batu bara. Ketiga jenis bahan bakar tersebut berasal dari pelapukan sisa-sisa organisme sehingga disebut bahan bakar fosil.
          Minyak bumi dan gas alam diduga berasal dari jasad renik lautan, baik tumbuhan maupun hewan. Sisa-sisa rganisme itu mengendap didasar lautan, kemudian tertutup oleh lumpur. Lapisan lumpur tersebut lambat laun berubah menjadi batuan karena pengaruh tekanan lapisan di atasnya. Sementara itu dengan meningkatnya tekanan dan suhu, bakteri anaerob menguraikan sisa-sisa jasad renik itu dan mengubahnya menjadi miyak dan gas. Proses terbentuknya minyak dan gas ini memakan waktu jutaan tahun.
          Minyak dan gas yang terbentu meresap dalam bentuk batuan yang berpori bagaikan air dalam batu karang. Minyak dan gas dapat pula bermigrasi dari suatu daerah ke daerah yang lain, kemudian terkonsentrasi jika terhalang oleh lapisan yang kedap. Walaupun minyak bumi dan gas alam terbentuk di dasar lautan, banyak sumber minyak dan gas yang terdapat di daratan. Hal itu terjadi karena pergerakan kulit bumi, sehingga sebagaian besar lautan menjadi daratan.
2.2.    Komposisi Minyak Bumi
         Minyak bumi hasil pertambangan yang belum diolah dinamakan minyak mentah (crude oil). Minyak  mentah merupakan campuran yang sangat komplek.
a. 57% hidrokarbon alifatik
b. 29% hidrokarbon aromatik
c. 14 % resin
d. 2%  belerang thiofenik yang terikat dalam hidrokarbon aromatik
senyawa-senyawa yang merupakan komponen minyak bumi dapat dilihat dalam tabel berrikut:

2.3       Proses Terjadinya Minyak Bumi
Membahas identifikasi minyak bumi tidak dapat lepas dari bahasan teori pembentukan minyak bumi dan kondisi pembentukannya yang membuat suatu minyak bumi menjadi spesifik dan tidak sama antara suatu minyak bumi dengan minyak bumi lainnya. Karena saya adalah seorang chemist, maka pendekatan yang saya lakukan lebih banyak kepada aspek kimianya daripada dari aspek geologi. Pemahaman tentang proses pembentukan minyak bumi akan diperlukan sebagai bahan pertimbangan untuk menginterpretasikan hasil identifikasi. Ada banyak hipotesa tentang terbentuknya minyak bumi yang dikemukakan oleh para ahli, beberapa diantaranya adalah :
a.    Teori Biogenesis (Organik)
Macqiur (Perancis, 1758) merupakan orang yang pertama kali mengemukakan pendapat bahwa minyak bumi berasal dari tumbuh-tumbuhan. Kemudian M.W. Lamanosow (Rusia, 1763) juga mengemukakan hal yang sama. Pendapat di atas juga didukung oleh sarjana lainnya seperti, New Beery (1859), Engler (1909), Bruk (1936), Bearl (1938) dan Hofer. Mereka menyatakan bahwa: “minyak dan gas bumi berasal dari organisme laut yang telah mati berjuta-juta tahun yang lalu dan membentuk sebuah lapisan dalam perut bumi.”
b.    Teori Abiogenesis (Anorganik)
Barthelot (1866) mengemukakan bahwa di dalam minyak bumi terdapat logam alkali, yang dalam keadaan bebas dengan temperatur tinggi akan bersentuhan dengan CO2 membentuk asitilena. Kemudian Mandeleyev (1877) mengemukakan bahwa minyak bumi terbentuk akibat adanya pengaruh kerja uap pada karbida-karbida logam dalam bumi. Yang lebih ekstrim lagi adalah pernyataan beberapa ahli yang mengemukakan bahwa minyak bumi mulai terbentuk sejak zaman prasejarah, jauh sebelum bumi terbentuk dan bersamaan dengan proses terbentuknya bumi. Pernyataan tersebut berdasarkan fakta ditemukannya material hidrokarbon dalam beberapa batuan meteor dan di atmosfir beberapa planet lain.
       Pada mulanya senyawa tersebut (seperti karbohidrat, protein dan lemak) diproduksi oleh makhluk hidup sesuai dengan kebutuhannya, seperti untuk mempertahankan diri, untuk berkembang biak atau sebagai komponen fisik dan makhluk hidup itu. Komponen yang dimaksud dapat berupa konstituen sel, membran, pigmen, lemak, gula atau protein dari tumbuh-tumbuhan, cendawan, jamur, protozoa, bakteri, invertebrata ataupun binatang berdarah dingin dan panas, sehingga dapat ditemukan di udara, pada permukaan, dalam air atau dalam tanah. Minyak bumi terbentuk dari penguraian senyawa-senyawa organik dari jasad mikroorganisme jutaan tahun yang lalu di dasar laut atau di darat. Sisa-sisa tumbuhan dan hewan tersebut tertimbun oleh endapan pasir, lumpur, dan zat-zat lain selama jutaan tahun dan mendapat tekanan serta panas bumi secara alami.
Berikut adalah langkah-langkah proses pembentukan minyak bumi:
  1. Ganggang hidup di danau tawar (juga di laut). Mengumpulkan energi dari matahari dengan fotosintesis.
  2. Setelah ganggang-ganggang ini mati, maka akan terendapkan di dasar cekungan sedimen dan membentuk batuan induk (source rock). Batuan induk adalah batuan yang mengandung karbon (High Total Organic Carbon). Batuan ini bisa batuan hasil pengendapan di danau, di delta, maupun di dasar laut. Proses pembentukan karbon dari ganggang menjadi batuan induk ini sangat spesifik. Itulah sebabnya tidak semua cekungan sedimen akan mengandung minyak atau gas bumi. Jika karbon ini teroksidasi maka akan terurai dan bahkan menjadi rantai karbon yang tidak mungkin dimasak.
  3. Batuan induk akan terkubur di bawah batuan-batuan lainnya yang berlangsung selama jutaan tahun. Proses pengendapan ini berlangsung terus menerus. Salah satu batuan yang menimbun batuan induk adalah batuan reservoir atau batuan sarang. Batuan sarang adalah batu pasir, batu gamping, atau batuan vulkanik yang tertimbun dan terdapat ruang berpori-pori di dalamnya. Jika daerah ini terus tenggelam dan terus ditumpuki oleh batuan-batuan lain di atasnya, maka batuan yang mengandung karbon ini akan terpanaskan. Semakin kedalam atau masuk amblas ke bumi, maka suhunya akan bertambah. Minyak terbentuk pada suhu antara 50 sampai 180 derajat Celsius. Tetapi puncak atau kematangan terbagus akan tercapai bila suhunya mencapat 100 derajat Celsius. Ketika suhu terus bertambah karena cekungan itu semakin turun dalam yang juga diikuti penambahan batuan penimbun, maka suhu tinggi ini akan memasak karbon yang ada menjadi gas.
  4. Karbon terkena panas dan bereaksi dengan hidrogen membentuk hidrokarbon. Minyak yang dihasilkan oleh batuan induk yang telah matang ini berupa minyak mentah. Walaupun berupa cairan, ciri fisik minyak bumi mentah berbeda dengan air. Salah satunya yang terpenting adalah berat jenis dan kekentalan. Kekentalan minyak bumi mentah lebih tinggi dari air, namun berat jenis minyak bumi mentah lebih kecil dari air. Minyak bumi yang memiliki berat jenis lebih rendah dari air cenderung akan pergi ke atas. Ketika minyak tertahan oleh sebuah bentuk batuan yang menyerupai mangkok terbalik, maka minyak ini akan tertangkap dan siap ditambang.

2.4.      Pengolahan Minyak Bumi
Minyak bumi biasanya berada 3-4 km di bawah permukaan. Minyak bumi diperoleh denganmembuat sumur bor. Di Indonesia penambangan minyak terdapat di berbagai tempat,misalnya Aceh, Sumatera Utara , Kalimantan , dan Irian Jaya.Minyak mentah (crude oil )berbentuk cairan kental hitam dan berbau kurang sedap. Minyak mentah belum dapatdigunakan sebagai bahan bakar maupun untuk keperluan lainnya, tetapi harus diolah terlebih dahulu.
Minyak mentah (cruide oil ) mengandung sekitar 500 jenis hidrokarbon dengan jumlah atomC-1 hinggga 50, karena titik didih karbon telah meningkat seiring bertambahnya jumlah atomC dalam molekulnya.Oleh karena itu pengolahan (pemurnian =refining ) minyak bumi dilakukan melalui distilasi bertingkat, dimana minyak mentah dipisahkan ke dalamkelompok-kelompok (fraksi) dengan titik didih yang mirip.Mula-mula minyak mentah padasuhu sekitar 400°C, kemudian dialirkan ke dalam menara fraksionasi.
Komponen yang titik didihnya tinggi akan tetap berupa cairan dan turun ke bawah,sedangkanyang titik didihnya lebih rendah akan menguap dan naik ke bagian atasmelalui sungkup-sungkup yang disebut sungkup gelembung. Makin ke atas, suhu dalam menara fraksionasi itusemakin rendah. Sehingga setiap kali komponen dengan titik didih lebih tinggi akan mengembun dan terpisah, sedangkan komponen yang titik didihnya lebih rendah naik ke atas. hidrokarbon rantai panjang dimana memiliki jumlah atom karbon lebih banyak maka titik didihnya lebih tinggi.
          Minyak Bumi dan gas alam terbentuk dari hasil pelapukan sisa-sisa tumbuhan dan hewan yang tertimbun dalam kerak bumi selama jutaan tahun. Akibat pengaruh suhu dan tekanan tinggi selama jutaan tahun, sisa tumbuhan dan hewan tersebut berubah menjadi minyak bumi. Minyak bumi yang terjadi merembes ke atas dan terkumpul dalam batuan reservoir, yaitu batuan berpori yang dapat ditembus oleh minyak bumi. Jika penumpukan minyak ini banyak jumlahnya dan menguntungkan, maka akan dilakukan pengeboran.
          Suatu contoh anjungan pengeboran minyak lepas di pantai . minyak mentah yang diperoleh ditampung dalam kapal tanker atau dialirkan melalui pipa ke stasiun tanki atau ke kilang minyak. Di indonesia penambangan minyak terdapat di berbagai tempat, seperti misalnya Aceh, Sumatra Utara, Pulau Jawa, Riau, Kalimantan dan Irian Jaya.
          Minyak mentah (crude oil) berbentuk cairan kental hitam dan berbau. Pengolahan minyak bumi dimulai dengan memnasakan minyak mentah pada suhu sekitar 4000C, kemudian dialirkan ke dalam menara fraksionasi di mana akan terjadi pemisahan berdasarkan perbedaan titih didih. Komponen yang titik didihnya lenih tinggi akan tetap berupa cairan dan turun ke bawah, sedangkan yang titik didihnya lebih rendah akan menguap dan naik ke bagian tas, suhu semaki rendah , sehingga setiap kali komponen dengan titik didihnya lebih rendah akan terus naik ke bagian yang lebih atas lagi. Demikian selanjutnya, sehingga berupa gas. Komponen yang mencapai puncak menara adalah komponen pada suhu kamar berupa gas. Komponen yang berupa gas itu disebut gas petroleum. Melalui kompresi dan pendinginan, gas petroleum dicairkan sehingga diperoleh LPG (liquified Petroleum Gas).
a.       Pengolahan pertama,
Pada tahapan ini dilakukan “distilasi bertingkat memisahkan fraksi-fraksi minyak bumi berdasarkan titik didihnya. Komponen yang titik didihnya lebih tinggi akan tetap berupa cairan dan turun ke bawah. Sedangkan titik didihnya lebih rendah akan menguap dan naik ke bagian atas melalui sangkup-sangkup yang disebut sangkup gelembung.
b.      Pengolahan kedua,
Pada tahapan ini merupakan proses lanjutan hasil penyulingan bertingkat dengan proses sebagai berikut:
a       Perengkahan (cracking)
b        Ekstrasi
c         Kristalisasi
d        Pembersihan dari kontaminasi
2.5. Dampak Penggunaan Minyak Bumi
Secara umum, kegiatan eksploitasi dan pemakaian sumber energi dari alam untuk memenuhi kebutuhan manusia akan selalu menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan (misalnya udara dan iklim, air dan tanah). Berikut ini disajikan beberapa dampak negatif penggunaan energi fosil terhadap manusia dan lingkungan 
 1.    Dampak Bagi Cuaca Dan Iklim.

Selain menghasilkan energi, pembakaran sumber energi fosil (misalnya:  minyak bumi, batu bara) juga melepaskan gas-gas, antara lain karbon dioksida (CO2), nitrogen oksida (NOx),dan sulfur dioksida (SO2) yang menyebabkan pencemaran udara (hujan asam, smog dan pemanasan global)
2. Dampak Terhadap Perairan.
Eksploitasi minyak bumi, khususnya cara penampungan dan pengangkutan minyak bumi yang tidak layak, misalnya: bocornya tangker minyak atau kecelakaan lain akan mengakibatkan tumpahnya minyak (ke laut, sungai atau air tanah) dapat menyebabkan pencemaran perairan. Pada dasarnya pencemaran tersebut disebabkan oleh kesalahan manusia. Pencemaran air oleh minyak bumi umumnya disebabkan oleh pembuangan minyak pelumas secara sembarangan. Di laut sering terjadi pencemaran oleh minyak dari tangki yang bocor. Adanya minyak pada permukaan air menghalangi kontak antara air dengan udara sehingga kadar oksigen berkurang.
3.  Dampak Terhadap Tanah.
Dampak penggunaan energi terhadap tanahdapat diketahui, misalnya dari pertambahan batu bara. 
2.6. Daerah Penambangan Minyak Bumi.
Sumber minyak bumi di Indonesia pertama kali ditemukan di langkat-sumatra Uatara pada tahun 1883. Daerah penambangan dan pengilangan minyak bumi di Idnonesia adalah sebagai berikut :
a.    Sumatra bagian utara, Lapangan gas alam Arun di Aceh. Lapanagan minyak bumi di lapangan Julu Rayeu, Serang Jaya, Pangkalan Susu, Pulu Panjang, dan Telaga Said DKG.
b. Sumatra bagian Tengah, Lapangan minyak Minas (sumur Minas merupakan lapangan minyak terbesar di Asia tenggara), lapangan minyak Andan, Bekasap, Duri, dan kota Batak.
c. Sumatra Bagian Selatan, Lapangan minyak Bajubang dan Tampino, Jambi. Lapanagan minyak mangun Jaya, Babat Ukui, Suban Burung, Kluang dan Pendopo Talang Akar, Palembang.
d.   Jawa Barat, Lapangan minyak Jatibarang, Randengan, dan Arimbi
e.    Jawa Timur, Lapangan minyak Cepu dan Kruka Surabaya.
f.   Kalimantan Timur, Lapangan minyak Tanjung di Barito dan Lapangan minyak Tarakan di Tarakan.
g.Daerah Laut China Selatan, Lapangan minyak di Naruna., Daerah Papua Lapangan minyak Klamono dan Klamunuk, Salawati. Lapangan minyak Mogoi dan Waisan, Bintuni.
III.     GAS ALAM
3.1.       Pengertian Gas Alam
Gas alam merupakan bahan bakar fosil berbentuk gas. Gas alam merupakan campuran hidrokarbon yang mempunyai daya kembang besar, daya tekan tinggi, berat jenis spesifik yang rendah dan dengan secara alamiah terdapat dalam bentuk gas. Pada dasarnya, gas alam tersebut terkumpul di bawah tanah dengan berbagai macam komposisi yang terdapat didalam kandungan minyak bumi (associated gas). Semua kandungan minyak bumi berhubungan dengan gas alam, di mana gas itu larut dalam minyak mentah serta juga seringkali membentuk “cungkup gas” (gas cap) di atas kandungan minyak bumi itu. Selain itu, gas alam tersebut juga dapat berkumpul pada tambang batu bara serta juga ladang gas bumi.
3.2.       Komposisi Gas Alam
Komposisi utama gas alam ialah metana (80%), sisanya itu ialah  etana (7%), propana (6%), dan butana (4%), isobotana, dan sisanya pentana. Selain dari komposis-komposisi tersebut, gas alam ini dapat juga mengandung helium, nitrogen, karbon dioksida, serta juga karbon-karbon lainnya. Gas alam tersenit tidak berbau, namun untuk mengetahui adanya kebocoran itu ditambahkan zat yang berbau tidak sedap sehingga kebocoran itu dalam langsung terdeteksi. Untuk memudahkan pengangkutan (transportasi), gas alam tersebut dicairkan sehingga disebut dengans sebutan gas alam cair atau juga LNG (Liquified Natural Gas).
3.3.       Jenis Gas Alam
Dibawah ini akan dijelaskan Jenis Gas Alam yang dikutip dari Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral yaitu:
a.    Gas pipa merupakan gas bumi yang langsung dialirkan dari dari lapangan gas setelah proses pemurnian untuk digunakan sebagai bahan bakar ataupun bahan baku industri. 
b.    LNG (liquefied natural gas) merupakana gas metana dengan komposisi 90% metana (CH4) yang dicairkan pada tekanan atmosferik serta pada suhu -163 derajat celcius.
c.    LPG (liquefied petroleum gas) atau juga gas bumi yang dicairkan dengan komponen utama propana (C3H8) serta butana (C4H10). Menurut jenisnya,LPG ini dikelompokkan menjadi: LPG propana, LPG butana serta juga LPG campuran (mix) ini merupakan campuran dari kedua jenis LPG diatas. LPG itu dapat dari penyulingan minyak mentah atau juga dari kondensasi gas bumi dalam kilang pengolahan gas bumi.
d.   CNG (compressed natural gas) merupakan gas bumi yang dipampatkan pada tekanan tinggi sehingga volumenya itu menjadi sekitar 1/250 dari volume gas bumi pada keadaan standar.

3.4.       Manfaat Gas Alam
Adapun Manfaat dari Gas Alam ini diantaranya sebagai berikut :
a.       Gas Alam sebagai Bahan Bakar untuk Kendaraan
b.      Gas Alam sebagai Sumber Pembangkit Listrik
c.       Gas Alam untuk Kesehatan Lingkungan
d.      Gas Alam untuk Kontribusi Ekonomi Dunia
e.       Gas Alam Menciptakan Jutaan Lapangan Kerja
f.       Gas Alam untuk Industri
g.      Gas Alam Meningkatkan Potensi Ekonomi Negara
h.      Gas Alam sebagai Bahan Pemanas dan Pendingin
i.        Gas Alam sebagai Sumber Energi Rumah Tangga
j.        Gas Alam Penghasil Sumber Tenaga Uap
k.      Gas Alam untuk Rekayasa Cuaca
l.        Gas Alam untuk Pengolahan Hasil Hutan
m.    Gas Alam Meningkatkan Pendapatan
n.      Gas Alam sebagai Energi Pengganti
o.      Gas Alam juga Mendukung Kemajuan Proses Ilmu Pengetahuan serta Teknologi

3.5.       Sifat Gas Alam
Gas alam ini menjadi sumber energi yang mudah terbakar. Gas alam tersebut terdiri dari senyawa hidrogen serta juga karbon. Hal tersebut membuat gas alam menjadi salah satu energi yang mempunyaai sifat bersih serta aman untuk pemakaian sehari-hari. Gas alam tersebut dapat ditemukan dengan sifat berwarna atau juga tidak berwarna.
Struktur hidrokarbon dalam gas alam pada saat baru keluar dari tanah terdiri dari metana, etana, butana, propane, karbon dioksida, minyak, nitrogen, sulfur, serta juga berbagai jenis kotoran lain. Proses pengolahan gas alam tersebut selanjutnya berfungsi untuk dapat memisahkan berbagai jenis kotoran sehingga gas alam yang dikonsumsi sama manusia sudah bersih.

Proses pengolahan gas
Proses pengolahan gas alam tersebut dilakukan oleh pabrik khusus yang menangani masalah energi. Gas alam yang keluar didalam bentuk energi yang sudah dappat digunakan oleh masyarakat dengan secara langsung mempunyai sifat yang sudah bersih sehingga akan sangat aman.

TERIMAKASIH....



Assalamualaikum wr.wb Berikut Tugas ke Empat mengenai "GEOTERMAL" I.      GEOTHERMAL 1.1.        Pengertian Gheotermal ...